Hari ini, Senin 24 Agustus 2009, saya merayakan ulang tahun yang ke 35, sudah cukup berumur.Ada sesuatu yang membahagiakan sepanjang dinihari hingga malam harinya. Pertama2 tentu saja ucapan selamat ulang tahun dari mantan pacar saya, jam 00.04.Kemudian pagi harinya disambut dengan bihun goreng tidak spesial, dan hadiah dari anak dan istri saya yang ditandai dengan acara buka kado.
Dua periode berturut2 saya diberikan tanda mata ikat pinggang, kali ini lebih komplit, kado pertama ikat pinggang, kado kedua sepatu.Wah, sepertinya kompak.
Dengan menggunakan sepatu baru ( mode baru : lentur ) sayapun melaju berangkat ke kantor.Sebagai catatan : kaki saya tidak ramah terhadap sepatu, dari sepatu kantoran, pdl, safety, karet, semua hancur sebelum waktunya.Entah apa yang membuat seperti itu.
Suasana kerjapun sepertinya menggembirakan, dan secara tidak simbolis ada perpindahan ruangan kerja, saya mulai menempati ruangan baru.Semoga saja ada perubahan untuk menjadi lebih semangat.
Yang tidak kalah menariknya tahun ini adalah ucapan selamat yang datang dari teman2 sejawat melalui Facebook, sms yang memberikan semangat dari saudara terkasih, Mas Man, Bapak, dan teman2 dekat, untuk kembali merekatkan rasa persaudaraan, juga terima kasih saya terhadap “kepedulian” teman2 sejawat, teman2 blogger, meskipun belum pernah bertemu.
Malam harinya sepulang dari kantor, masih ada acara makan malam keluarga sebagai kado ketiga : sate ayam.Wah komplit plit hari ini.Masih belum puas, istri mengajak jalan untuk melihat suasana kota sekaligus mengunjungi sahabat saya yang kemarin juga ulang tahun, Om Hari.Setelah itu, kami berencana untuk membeli sepatu tandingan dengan model yang sama untuk istri, hmmm…namun ditengah semarak diskon yang digelar, sang istri menemukan celana panjang yang pas untuk saya dan menjadi kado ke empat.
Sedang mujur hari ini.Terima kasih Tuhan….
Diawali dengan doa dan syukur, diakhiri dengan doa dan syukur.
Salatiga, tulisan pendek 24 Agustus 2009
CUKUP
Seringkali kita mendengar bahwa kata cukup mengandung pengertian pas, tepat, sudah sesuai, stop.Kecukupan juga bisa diberi pengertian tidak lebih dan tidak kurang.
Dalam menterjemahkan kata cukup, ada satu ayat yang merupakan ayat favorit saya :
Ibrani 13: 5
Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
Sebagai manusia, kita sering lupa bahwa kata cukup seringkali kita lewatkan begitu saja.Karena apa?Karena kita mempunyai kecenderungan tidak bisa mengendalikan kedagingan kita sendiri tatkala kita berada pada kelimpahan rejeki.Secara sederhana dapat saya gambarkan bahwa dalam dunia materi, yang patokannya adalah kekayaan, memiliki sesuatu yang lebih merupakan sebuah impian tersembunyi.Dengan gampangnya kita bisa berganti mobil, kita bisa memiliki ini dan itu, membeli setiap produk yang ditawarkan, kalau bisa semua yang ditawarkan di dunia ini.Hal ini tidak salah, karena kita punya sarana untuk membeli, kita punya kekayaan untuk bisa menguasainya.Perilaku yang demikian mendorong kita untuk memanjakan nafsu kita sendiri tanpa “berpikir” akan sebuah kata cukup.Karena apa? Karena kita sudah tidak bisa membedakan lagi antara kebutuhan dan keinginan, seolah-olah keinginan itu sama dengan sebuah kebutuhan.Apakah iya?Saya rasa kebutuhan merupakan hal pokok yang harus dipenuhi, seperti sandang, pangan, papan.Boleh dikatakan sebagai kebutuhan primer kita.Sementara itu kalau kita berbicara keinginan, keinginan mencakup arti luas sebagai sebuah hasrat untuk menguasai sesuatu, entah itu membeli, melakukan sesuatu yang diyakini bisa dimiliki.Jadi kalau sudah sama antara keinginan dan kebutuhan jadinya nafsu.Kita sudah tidak bisa menguasai diri lagi, kita menjadi budak atas pikiran kita sendiri.
Pagi hari ini, 25 Agustus 2009, saya juga tersentuh dengan tema ketamakan yang ditulis dalam renungan harian yang biasa kami baca.Ketamakan pertanda kecukupan yang tak pernah terpuaskan.Apakah kita bisa menerima ketika kita meninggalkan apa yang sudah kita punya untuk sesuatu yang masih kabur dalam hidup kita?sesuatu yang belum pasti?sesuatu yang masih diangan2?
Saya rasa cukup harus diikuti dengan syukur.Cukup tidak bisa dipandang dari segi apapun.Rasa cukup datang dari hati kita, dari akal sehat kita.
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku
Filipi 4 : 11-13
Salatiga 25 Agustus 2009
Dalam menterjemahkan kata cukup, ada satu ayat yang merupakan ayat favorit saya :
Ibrani 13: 5
Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
Sebagai manusia, kita sering lupa bahwa kata cukup seringkali kita lewatkan begitu saja.Karena apa?Karena kita mempunyai kecenderungan tidak bisa mengendalikan kedagingan kita sendiri tatkala kita berada pada kelimpahan rejeki.Secara sederhana dapat saya gambarkan bahwa dalam dunia materi, yang patokannya adalah kekayaan, memiliki sesuatu yang lebih merupakan sebuah impian tersembunyi.Dengan gampangnya kita bisa berganti mobil, kita bisa memiliki ini dan itu, membeli setiap produk yang ditawarkan, kalau bisa semua yang ditawarkan di dunia ini.Hal ini tidak salah, karena kita punya sarana untuk membeli, kita punya kekayaan untuk bisa menguasainya.Perilaku yang demikian mendorong kita untuk memanjakan nafsu kita sendiri tanpa “berpikir” akan sebuah kata cukup.Karena apa? Karena kita sudah tidak bisa membedakan lagi antara kebutuhan dan keinginan, seolah-olah keinginan itu sama dengan sebuah kebutuhan.Apakah iya?Saya rasa kebutuhan merupakan hal pokok yang harus dipenuhi, seperti sandang, pangan, papan.Boleh dikatakan sebagai kebutuhan primer kita.Sementara itu kalau kita berbicara keinginan, keinginan mencakup arti luas sebagai sebuah hasrat untuk menguasai sesuatu, entah itu membeli, melakukan sesuatu yang diyakini bisa dimiliki.Jadi kalau sudah sama antara keinginan dan kebutuhan jadinya nafsu.Kita sudah tidak bisa menguasai diri lagi, kita menjadi budak atas pikiran kita sendiri.
Pagi hari ini, 25 Agustus 2009, saya juga tersentuh dengan tema ketamakan yang ditulis dalam renungan harian yang biasa kami baca.Ketamakan pertanda kecukupan yang tak pernah terpuaskan.Apakah kita bisa menerima ketika kita meninggalkan apa yang sudah kita punya untuk sesuatu yang masih kabur dalam hidup kita?sesuatu yang belum pasti?sesuatu yang masih diangan2?
Saya rasa cukup harus diikuti dengan syukur.Cukup tidak bisa dipandang dari segi apapun.Rasa cukup datang dari hati kita, dari akal sehat kita.
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku
Filipi 4 : 11-13
Salatiga 25 Agustus 2009
Yang Terlupa
Yohanes 14: 6
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Kurang lebih 8 atau 9 tahun yang lalu, pagi ini saya kembali bertemu dengan Ibu Eveline Purnama, siapa dia?
Pagi ini, kami memang berniat untuk mengikuti kebaktian siang hari, jam 09.00.Mungkin karena kami bangun kesiangan, maka yang seharusnya kebaktian pagi sesuai dengan keputusan yang kami buat malam harinya kami rubah untuk berangkat jam 09.00 saja.Ketika bersiap-siap akan berangkat, tiba-tiba saja hp istri saya berdering, dan saya angkat, ternyata sang kakak mengabarkan supaya kita ikut sarapan bersama.Runding punya runding, akhirnya kami ke sana, tidak untuk makan tapi untuk menitipkan buah hati kami.
Setelah itu kami pergi ke gereja.Namun, ditengah jalan tiba-tiba terlintas pikiran dari istri saya untuk mengikuti kebaktian di GKI saja.Saya mengangguk, mengiyakan tanda setuju.Akhirnya kami mengikuti kebaktian di GKI.
Pada saat khotbah di mulai, saya agak tersentak, karena yang membawakan kotbah pada saat itu adalah Ibu Eveline Purnama.Saya jadi teringat beberapa waktu yang lalu, ketika saya ikut katekisasi untuk babtis.Betapa beliau membimbing saya untuk lebih mengenal dan tahu tentang Sang Juru Selamat, tiap hari Rabu, kalau saya tidak salah ingat, dan beliau cukup sabar.Melihat perkembangan saya dalam memahami isi Alkitab misalnya, beliau cukup bersimpati.Hal ini bisa terjadi berkat ajaran saudara saya yang memberi perhatian untuk urusan perkembangan rohani saya, MasMan dan Mbak Grace dan dari kedua saudara saya ini saya diberi wawasan tentang Kristus.Setelah beberapa waktu akhirnya saya dibabtis.
Kesibukan dan pergumulan hidup seakan-akan saya melupakan peristiwa bersejarah dalam hidup saya tersebut.Hingga akhirnya hari ini saya kembali diingatkan, bagaimana luarbiasanya pertolonganNya dalam setiap pergumulan yang saya lalui.
Bukan terkadang, jalanNya yang ajaib menuntun kita senantiasa, tanpa rasa lelah, tanpa keluhan, tanpa omelan, Dia memperhatikan setiap langkah kita.
Hingga malam ini saya masih berpikir, Tuhan ijinkan saya untuk ikut dalam rencanaMu saja, bukan memaksakan rencanaku untuk rencanaMu yang terlalu indah bagiku.
Ayat di atas menjadi penguat bagi kita dalam menyikapi kerapuhan kita sebagai manusia yang kerdil, manusia yang tak berdaya….
Minggu, 26 Juli 2009
Langganan:
Postingan (Atom)

