Pekewuh
Pekewuh alam bahasa Jawa, kalau di bahasa Indonesiakan artinya hampir sama dengan malu.Malu bukan dari kata sifat, namun malu karena keadaan.
Wah, aku pekewuh karo pak anu…(Red : Mungkin terlalu banyak kebaikan yang sudah diterima dari seseorang kepada kita, jadinya kita malu apabila bertemu atau ingin mengungkapkan sesuatu kepada pak anu).Begitulah kemungkinan gambaran rasa pekewuh dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dalam setiap keadaan, pekewuh terkadang memang menjadi alasan yang kuat, yang tanpa disadari justru malah menjadi bumerang dalam melayani Tuhan.Contoh yang paling sederhana saja dapat kita lihat dalam perkumpulan doa misalnya, ayo pimpin doa, nah mulailah, lempar sana, lempar sini, bapak saja, ooo ibu saja, jangan saya, saya masih …
Saya nggak enak sama…. Dan masih banyak alasan lain yang mewarnai sikap pekewuh kita.Dan tidak jarang hal ini tiba-tiba menjadi satu budaya dalam kehidupan kita.
Mengapa menjadi budaya? Karena sering kita lakukan, berakar kuat dalam pembentukan pola pikir kita, menjadi suatu kebiasaan, sehingga terbentuklah yang namanya budaya pekewuh.
Kita akan merasa lega, ketika kita terbebas dari penunjukan dan itu artinya kita bangga dengan rasa pekewuh itu.
Kalau kembali dipikirkan, tidak semestinya harus demikian.Kita pekewuh terhadap orang, kita pekewuh karena kebaikannya, bukankah Tuhan Yesus super baik dalam hidup kita, bahkan dalam kondisi terpepetpun Dia memberikan yang terbaik, memberikan kecukupan kepada hidup kita, memberikan jodoh yang terbaik, yang sepadan, memberikan makanan yang dapat kita makan dengan cukup, standart kesehatan yang cukup untuk tubuh kita dalam menjalani rutinitas hidup sehari-hari, Dia menyembuhkan segala luka kita, jasmani maupun rohani, bahkan lebih sering Tuhan kita paksa untuk memenuhi kebutuhan kita, dan tidak jarang pemaksaan itu berakhir dengan “keberhasilan”.Luar biasa, Dia tidak pernah marah, meskipun kita ngotot, kita kekeh dengan pendirian kita, ini saja Tuhan, aku pilih ini, ini jalan hidupku, Tuhan tolong berkati jalanku, ya mungkin kita merasa sering begitu.
Pekewuh kah kita terhadap Tuhan ?
KebaikanNya yang tiada tara dalam hidup kita, sudah selayak dan sepantasnyalah kita pekewuh.Dengan pekewuh kepada Tuhan, kita berani untuk memberikan pelayanan, kita berani untuk memimpin persekutuan, kita berani tampil untuk kemuliaan Tuhan, kita berani mewartakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita, kita berani bersaksi, dan masih banyak hal yang positif yang dapat kita lakukan, dan membuat kita bersemangat dalam menjalani hidup ini.
Salatiga, 041108 03:03 WIB
Pekewuh alam bahasa Jawa, kalau di bahasa Indonesiakan artinya hampir sama dengan malu.Malu bukan dari kata sifat, namun malu karena keadaan.
Untuk Sahabat
Saya kaget, mendengar dari kakak saya bahwa sahabat saya akan menikah tanggal 27 April nanti.Tanpa ada kabar sebelumnya, membuat kami sekeluarga hanya bisa merutuk dan sedikit menyesal, kok tidak memberi kabar?Usut punya usut ternyata mereka berdua ingin membuat surprise.Oooo… begitu.
Tapi surprisenya kadaluwarsa, sudah ketahuan dulu.
Buat kami memang tidak ada pengaruhnya, dan kamipun memakluminya.
Ingat pernikahan, saya teringat Pengkhotbah 3 : 11… Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir…
Sama seperti yang sahabat saya alami, kita bisa saja merencanakan sesuatu, tetapi Yang Empunya Hidup menghendaki lain, kita harus bagaimana?Apakah harus “ngotot”? Tuhan saya maunya yang ini.Namun apa yang terjadi? Impian bisa jadi tak seindah kenyataan dan pastinya Tuhan akan menjawab…No..No..No…Tunggu dulu…Keinginan kita uuups …hilang lenyap begitu saja.Akhirnya apa? Sabar dulu!
Dan
Ketika waktunya sudah tepat, Dia pasti akan memberikan dengan sempurna.
Benar saja, beberapa tahun terakhir ada kabar bahwa mereka sudah berdua, sudah bertemu, berkenalan, saling cocok, dan berlanjut ke hubungan yang lebih serius.Simple dan tak berbelit-belit.Ajaib!
Menurut saya, ya itulah kehidupan yang harus dijalani.
Tuhan sudah menggariskan apa yang dalam rancanganNya, supaya semua berjalan dibawah kendali Tuhan, lebih konkretnya supaya kita tidak mudah putus asa dalam menjalani hidup kita sendiri.Dengan kesabaran dan menjalani kehidupan yang benar, tentunya akan membuahkan sesuatu yang berguna dalam hidup ini.
Coba bayangkan saja, jika kita “kekeh” dengan pendirian kita, dan bersikeras dengan sikap kita, wah saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya.Kalau bicara kecewa, ya pasti kecewa, namun apakah harus tenggelam terus menerus dalam kekecewaan?Tuhan mau supaya kita berani hidup, dalam segala hal.Ya, berani hidup.Memutuskan segala sesuatu dengan bantuan Tuhan melalui doa-doa kita.
Kita tidak akan pernah tahu hasilnya, tetapi Tuhanlah yang berhak menentukan.
Perjalanan kasih membutuhkan pengertian, pengorbanan, dan penghargaan supaya tercipta hubungan yang harmonis dalam membangun bahtera rumah tangga.
Pernikahan merupakan salah satu jawaban Tuhan atas teka-teki masa depan kita.
(Kado untuk te Cicil dan om Reynald di Salatiga, Tuhan sayang dengan kalian ).
Catatan
Tulisan ini saya tulis pas mereka berdua mau menikah, akan tetapi setelah kurang lebih berselang pernikahan mereka, mereka berdua harus kehilangan ibunda tercinta…Dan beberapa hari yang lalu tepatnya 8 Oktober 2008, mereka diberikan anugerah seorang putri dengan panggilan “ Grace"
Tapi surprisenya kadaluwarsa, sudah ketahuan dulu.
Buat kami memang tidak ada pengaruhnya, dan kamipun memakluminya.
Ingat pernikahan, saya teringat Pengkhotbah 3 : 11… Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir…
Sama seperti yang sahabat saya alami, kita bisa saja merencanakan sesuatu, tetapi Yang Empunya Hidup menghendaki lain, kita harus bagaimana?Apakah harus “ngotot”? Tuhan saya maunya yang ini.Namun apa yang terjadi? Impian bisa jadi tak seindah kenyataan dan pastinya Tuhan akan menjawab…No..No..No…Tunggu dulu…Keinginan kita uuups …hilang lenyap begitu saja.Akhirnya apa? Sabar dulu!
Dan
Ketika waktunya sudah tepat, Dia pasti akan memberikan dengan sempurna.
Benar saja, beberapa tahun terakhir ada kabar bahwa mereka sudah berdua, sudah bertemu, berkenalan, saling cocok, dan berlanjut ke hubungan yang lebih serius.Simple dan tak berbelit-belit.Ajaib!
Menurut saya, ya itulah kehidupan yang harus dijalani.
Tuhan sudah menggariskan apa yang dalam rancanganNya, supaya semua berjalan dibawah kendali Tuhan, lebih konkretnya supaya kita tidak mudah putus asa dalam menjalani hidup kita sendiri.Dengan kesabaran dan menjalani kehidupan yang benar, tentunya akan membuahkan sesuatu yang berguna dalam hidup ini.
Coba bayangkan saja, jika kita “kekeh” dengan pendirian kita, dan bersikeras dengan sikap kita, wah saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya.Kalau bicara kecewa, ya pasti kecewa, namun apakah harus tenggelam terus menerus dalam kekecewaan?Tuhan mau supaya kita berani hidup, dalam segala hal.Ya, berani hidup.Memutuskan segala sesuatu dengan bantuan Tuhan melalui doa-doa kita.
Kita tidak akan pernah tahu hasilnya, tetapi Tuhanlah yang berhak menentukan.
Perjalanan kasih membutuhkan pengertian, pengorbanan, dan penghargaan supaya tercipta hubungan yang harmonis dalam membangun bahtera rumah tangga.
Pernikahan merupakan salah satu jawaban Tuhan atas teka-teki masa depan kita.
(Kado untuk te Cicil dan om Reynald di Salatiga, Tuhan sayang dengan kalian ).
Catatan
Tulisan ini saya tulis pas mereka berdua mau menikah, akan tetapi setelah kurang lebih berselang pernikahan mereka, mereka berdua harus kehilangan ibunda tercinta…Dan beberapa hari yang lalu tepatnya 8 Oktober 2008, mereka diberikan anugerah seorang putri dengan panggilan “ Grace"
Selagi Mampu Bertahan ( Kikis Istianta )
Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar?
(Ayub 6: 11)
Kemarin malam, tepatnya dini hari jam satu pagi, saya dikejutkan oleh ketokan pintu di rumah saya, dan ternyata yang muncul adalah anak buah saya, dengan muka yang tegang dia mengabarkan bahwa dermaga muat di depan pabrik hancur semua karena dihantam kapal ponton.---Kami tinggal di tepi sungai besar yang merupakan satu-satunya lalulintas air di daerah ini ---Pada saat itu saya sempat panik, tapi saya tahan-tahan sampai saya tiba di dermaga tersebut.Karena tali pengikat depan lepas maka kapal ponton yang sedang mengisi muatan hasil produksi kami di dermaga terhanyut oleh arus dan mencabut tiang-tiang pancang pengikat tali kapal dan merusakkan sebagian dari dermaga pabrik.Baru kali ini saya melihat kehebatan arus yang mengalir, dan memang pada saat itu saya bisa melihat aliran air itu dengan memperhatikan enceng godok yang bergerak seiring dengan arus itu, lumayan deras.Saat itu tali sebesar lengan masih terikat hanya pada satu tiang pancang dan hanya itulah yang menahan beban kapal ponton yang bermuatan 3.000 ton, setelah kurang lebih setengah jam bertahan akhirnya air sungai yang mulai pasang mulai menarik tali yang terikat pada tiang pancang dan jembatan batu yang dibangun lebih dari 20 tahun terbelah dan tertarik sehingga putus dan tiang pancang pengikat tali tercabut.Kejadiannya cukup menegangkan karena kalau tidak ada ada penahan tali itu, ponton bisa dipastikan akan hanyut dan menghantam semua dermaga di pasar yang terletak tidak jauh dari tempat kami.Setelah dermaga terseret ponton, kapal penarik bertahan lama untuk melawan arus mebawa ponton itu ke tengah sungai, dan akhirnya ponton dengan beban 3.000 ton perlahan – lahan meninggalkan pelabuhan untuk berlabuh.
Kerusakan lumayan parah, jembatan batu, tiang pancang, kayu2 ulin, dan penahan dermaga, hanyut terbawa arus sungai.Hanya beberapa jam apa yang saya lihat sore harinya, sudah tidak ada lagi ditempatnya.
Saat itulah saya merenungkan, bagaimana kondisi yang harus kita hadapi ketika kita berada pada situasi yang demikian, di tengah arus dunia yang serba cepat, serba deras, perubahan yang tiba-tiba, situasi yang tidak menentu.Mampukah kita bertahan atau malah ikut terseret arus ? Di sekitar kita, banyak sekali hal- hal yang membuat kita menjadi bimbang dan ragu, apalagi ditengah – tengah maraknya keinginan – keinginan tersembunyi dalam hati kita untuk menguasai “dunia” dengan harta kekayaan, jabatan ataupun kekuasaan.
Terkadang saya bertanya dalam diri saya sendiri, mampukah saya bertahan menghadapi semua ini?
Satu jawaban saya peroleh setelah tulisan ini saya biarkan kurang lebih dua bulan.Harus mampu bertahan.Ada penolong yang setia.Penolong yang hidup.Tuhan Yesus.
Beberapa saat setelah itu, saya mengalami sebuah keadaan yang berbalik 180 derajat.Ketika pekerjaan banyak terbengkelai, ketika semua menunjuk tangan ke arah saya, dan saya benar-benar mengalami suatu peristiwa yang mematahkan semangat saya.Seandainya saya punya sayap saya akan terbang tinggi menjauh dari segala permasalahan yang ada.Namun saya kembali diingatkan ditegur Tuhan.Melalui perenungan saya, doa yang saya panjatkan, akhirnya saya menemukan kembali peluang-peluang kecil yang tatap mengharapkan saya untuk bertahan dalam situasi yang bagaimanapun.Kritikan, saran, masukan saya mencoba ntuk menerimanya meskipun dengan rasa yang berat, dengan rasa sakit hati yang terpendam, dan saya mencoba melupakannya, mencari nilai positifnya.Hati kecil saya mengisyaratkan untuk tetap bertahan selagi mampu…
Sama halnya ketika badai menerpa, dan tdk hanya itu mungkin akan meninggalkan sisa-sisa kerusakan yang membuat hati kita teriris pilu, tapi yan jelas badai itu pasti berlalu bukan?
Dilema, 2007
(Ayub 6: 11)
Kemarin malam, tepatnya dini hari jam satu pagi, saya dikejutkan oleh ketokan pintu di rumah saya, dan ternyata yang muncul adalah anak buah saya, dengan muka yang tegang dia mengabarkan bahwa dermaga muat di depan pabrik hancur semua karena dihantam kapal ponton.---Kami tinggal di tepi sungai besar yang merupakan satu-satunya lalulintas air di daerah ini ---Pada saat itu saya sempat panik, tapi saya tahan-tahan sampai saya tiba di dermaga tersebut.Karena tali pengikat depan lepas maka kapal ponton yang sedang mengisi muatan hasil produksi kami di dermaga terhanyut oleh arus dan mencabut tiang-tiang pancang pengikat tali kapal dan merusakkan sebagian dari dermaga pabrik.Baru kali ini saya melihat kehebatan arus yang mengalir, dan memang pada saat itu saya bisa melihat aliran air itu dengan memperhatikan enceng godok yang bergerak seiring dengan arus itu, lumayan deras.Saat itu tali sebesar lengan masih terikat hanya pada satu tiang pancang dan hanya itulah yang menahan beban kapal ponton yang bermuatan 3.000 ton, setelah kurang lebih setengah jam bertahan akhirnya air sungai yang mulai pasang mulai menarik tali yang terikat pada tiang pancang dan jembatan batu yang dibangun lebih dari 20 tahun terbelah dan tertarik sehingga putus dan tiang pancang pengikat tali tercabut.Kejadiannya cukup menegangkan karena kalau tidak ada ada penahan tali itu, ponton bisa dipastikan akan hanyut dan menghantam semua dermaga di pasar yang terletak tidak jauh dari tempat kami.Setelah dermaga terseret ponton, kapal penarik bertahan lama untuk melawan arus mebawa ponton itu ke tengah sungai, dan akhirnya ponton dengan beban 3.000 ton perlahan – lahan meninggalkan pelabuhan untuk berlabuh.
Kerusakan lumayan parah, jembatan batu, tiang pancang, kayu2 ulin, dan penahan dermaga, hanyut terbawa arus sungai.Hanya beberapa jam apa yang saya lihat sore harinya, sudah tidak ada lagi ditempatnya.
Saat itulah saya merenungkan, bagaimana kondisi yang harus kita hadapi ketika kita berada pada situasi yang demikian, di tengah arus dunia yang serba cepat, serba deras, perubahan yang tiba-tiba, situasi yang tidak menentu.Mampukah kita bertahan atau malah ikut terseret arus ? Di sekitar kita, banyak sekali hal- hal yang membuat kita menjadi bimbang dan ragu, apalagi ditengah – tengah maraknya keinginan – keinginan tersembunyi dalam hati kita untuk menguasai “dunia” dengan harta kekayaan, jabatan ataupun kekuasaan.
Terkadang saya bertanya dalam diri saya sendiri, mampukah saya bertahan menghadapi semua ini?
Satu jawaban saya peroleh setelah tulisan ini saya biarkan kurang lebih dua bulan.Harus mampu bertahan.Ada penolong yang setia.Penolong yang hidup.Tuhan Yesus.
Beberapa saat setelah itu, saya mengalami sebuah keadaan yang berbalik 180 derajat.Ketika pekerjaan banyak terbengkelai, ketika semua menunjuk tangan ke arah saya, dan saya benar-benar mengalami suatu peristiwa yang mematahkan semangat saya.Seandainya saya punya sayap saya akan terbang tinggi menjauh dari segala permasalahan yang ada.Namun saya kembali diingatkan ditegur Tuhan.Melalui perenungan saya, doa yang saya panjatkan, akhirnya saya menemukan kembali peluang-peluang kecil yang tatap mengharapkan saya untuk bertahan dalam situasi yang bagaimanapun.Kritikan, saran, masukan saya mencoba ntuk menerimanya meskipun dengan rasa yang berat, dengan rasa sakit hati yang terpendam, dan saya mencoba melupakannya, mencari nilai positifnya.Hati kecil saya mengisyaratkan untuk tetap bertahan selagi mampu…
Sama halnya ketika badai menerpa, dan tdk hanya itu mungkin akan meninggalkan sisa-sisa kerusakan yang membuat hati kita teriris pilu, tapi yan jelas badai itu pasti berlalu bukan?
Dilema, 2007
Langganan:
Postingan (Atom)

