RODA DUA



Banyaknya kendaraan roda dua saat ini, benar- benar merupakan fenomena yang menakjubkan.Bagaimana tidak?Begitu muncul mode baru, beberapa saat saja sudah ada yang melenggang di jalan raya.Bermunculan inovasi dan semakin “canggihnya” penampilan kendaraan bermotor tersebut menjadikan masyarakat kita tertarik untuk membeli sepeda motor.
Gejala itu didukung juga oleh sistem penjualan yang bervariasi, dimulai dari pembelian tunai, dengan bonus2 yang beragam, sampai pembelian dengan cara kredit yang “super murah”.Seolah-olah para produsen sepeda motor menebarkan pesona mereka untuk menggaet sebanyak-banyaknya pembeli, dan tampaknya, gejala pembelian sepeda motor menjadikan sebagian orang di daerah pelosok, ikut berlomba-lomba untuk memiliki sepeda motor.

Tidak ada yang salah.
Namun ada beberapa hal yang saya perhatikan, dan mungkin dapat menjadi bahan perenungan bersama.

Sebagai salah satu pengguna sepeda motor, saya diuntungkan dari sisi waktu, tenaga dan biaya.Saya seorang pelaju, menggunakan kendaraan bermotor yang econocommuter, ekonomis.Saya bandingkan dengan pengeluaran biaya saya apabila naik kendaraan umum, jauh sekali perbandingannya, hampir 1 : 3.Artinya kalau sayanaik kendaraan umum biaya yang saya keluarkan sampai 800 hingga 900 ribu rupiah perbulan, belum termasuk ini dan itunya, dengan mengggunakan sepeda motor saya hanya mengeluarkan dana 250 sampai 300 ribu perbulan.Selain itu waktu yang saya tempuh biasanya 1 – 2 jam, bisa tembus dalam waktu 45 – 1 jam saja, demikian juga dengan tenaga.Untuk itu tidak salah mengapa orang cenderung untuk naik sepeda motor.

Tentu dengan kondisi yang saya alami, dirasakan juga beberapa rekan pelaju lainnya.Saya amati ada beberapa hal yang menurut saya masih perlu diperhatikan demi menciptakan rasa nyaman berkendara.Saya melihat masih banyak pelanggaran-pelanggaran, aksi coba2 tanpa helm, atau gaya kebut-kebutan yang mana semua itu menjadi keprihatinan saya.
Pengalaman saya, contohnya, di jalur alternatif ke terminal Ungaran, tepatnya di perempatan sebelum lapangan, baru beberapa waktu terakhir dipasang rambu lampu lalulintas, namun apa yang terjadi?Masih saja, kendaraan berlalulalang tanpa mengindahkan rambu.Mungkin hanya dari arah Solo menuju ke Semarang saja yang taat.Selebihnya dari kanan, kiri, depan, masih banyak terjadi pelanggaran.Apakah lampu “bangjo” itu tidak cukup terang untuk membelalakan mata pengendara?Atau penempatannya yang salah dan keliru?
Masih di jalan yang sama, ada larangan “stop”, tapi masih saja ada kendaraan yang melawan arah sehingga membingungkan pengendara yang lain arah.Demikian juga ketika kendaraan bermotor akan belok, lampu sign menyala kanan, beloknya ke kiri, lampu sign menyala ke kiri, beloknya ke kanan, atau yang lebih memprihatinkan, tidak ada sign kiri kanan, malah belok mendadak ditambah lagi lampu sign dijadikan lampu hias, kiri kanan menyala bergantian, seolah –olah berkata, minggir…ini aku …aku akan lewat.Setahu saya kalau lampu sign dua – duanya menyala itu pertanda ada sesuatu yang harus didahulukan, bagi kendaraan roda empat, tapi bagi roda dua rasanya belum ada…

Saya juga berpikir, tidak ada salahnya juga ya, kebanyakan angkutan umum juga menjadi seenaknya saja melintas di jalan raya dan mungkin mereka juga muak dengan tingkah laku pengendara sepeda motor yang seperti saya sebutkan di atas.Jadinya semacam pembalasan.Tiba-tiba menyalip pengendara sepeda motor dengan suara rem gas yang berisik, atau suitan2 kernet yang tak beraturan, disertai bunyi klakson kapal laut yang memekakan telinga, dan diakhiri dengan asap tebal tanpa saringan udara.Ya…aksi –aksi seperti itu seringkali saya lihat.Atau bahkan mentang-mentang besar ambil lajur seenaknya sendiri.wah… seperti falsafah raja hutan, yang kuat yang menang.

Beberapa hari yang lalu saya sempat baca di tabloid terkemuka bahwa pemerintah mulai memikirkan untuk mengijinkan pengendara motor masuk tol.Apakah menyelesaikan masalah?

Akhirnya ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi :

Etika bersepeda motor perlu ditegakkan kembali, keamanan berkendara perlu disosialkan kembali, sarana dan prasarana jalan perlu diperhatikan kembali, dan tentu saja kedisiplinan pengendara dalam berkendaraa perlu ditingkatkan melalui pembinaan dari instansi yang terkait.

Salam.


0 komentar:

 
Copyright © Jejak Berirama Blogger Theme by BloggerThemes & newwpthemes Sponsored by Internet Entrepreneur